News coverage
News list
  • Fisika Batik Mendapatkan Rekor Dunia
    Februari 2010, www.acrobatik.biz
  • acroCommunity Soccer Edition, Edisi Februari 2010
    3 Februari 2010, Acrobatik.biz
  • acroBatik on DAAI TV
    28 Januari 2010, acroBatik.biz
  • Fisika Batik, Upaya Memopulerkan Motif Batik
    2 Juli 2009, Okezone.com
  • Batik dari Fisika
    2 Juli 2009, Koran Tempo
  • Batik Komputer, atau Komputer Batik
    2 Juli 2009, Kompas
  • Rolan Mauludy Dahlan: Lindungi Budaya dengan Cara Modern
    12 Juli 2009, Annida Online
  • Mendulang Emas Lewat Batik
    19 Juli 2009, Republika
  • Fisika Batik Sebagai Jejak Sains Modern Dalam Seni Tradisi Indonesia
    11 Oktober 2009, PPIPTEK Taman Mini
Mendulang Emas Lewat Batik
Source : Republika - 19 Juli 2009

Nugra Akbari mengalahkan peneliti-peneliti muda dari berbagai negara maju saat presentasi di Polandia.

Batik telah menjadi bahan diskusi yang mengantarkan Nugra Akbari meraih medali emas di ajang Computer Science International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-16 di Polandia. Siswa kelas dua SMA Global Mandiri, Cibubur, itu berhasil mengalahkan peneliti muda dari negara-negara besar lain dengan software hasil pengembangannya yang bernama M Batik. Melalui software itu, ia merekayasa sebuah desain batik menjadi desain-desain lain yang jauh berbeda. Sistem kerjanya menggunakan sifat fraktal. "Dengan software itu, hasil gambar yang tercipta dengan sistem fraktal bisa di-zoom lalu diambil desain yang menurut kita menarik," ujar Nugra.

Kompetisi yang diadakan di Pszczyna, Polandia, 24-28 April 2009, itu, mewajibkan setiap peserta, seperti dari Jerman, Belanda, Amerika Serikat (AS), Rusia, Hongaria, Polandia, dan juga Indonesia, memaparkan karya mereka dalam konferensi besar. Menyimak pemaparan Nugra, negara-negara lain harus mengakui kehebatan warisan budaya Indonesia. Untuk menciptakan software itu, Nugra dilatih selama sebulan oleh Bandung Fe Institut untuk mendalami kemampuan programming. Selanjutnya, ia diperkenalkan pada pembuatan software selama 3-4 bulan. "Pengoperasiannya cukup gampang, tinggal instal lalu klik sana sini," ujar Nugra.

Usaha Nugra ikut mengembangkan software ini tak sia-sia. Semula, ia hanya ingin ikut mengembangkan desain batik lewat software ini. "Saya berharap desain batik ke depan tidak stagnan," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X pada peluncuran buku Fisika Batik, pertengahan bulan lalu. Harapan itu tidak datang tanpa sebab lho. Sejak batik mengalami perkembangan di zaman kolonial hingga masuk ke zaman modern ini, hanya sedikit desain baru yang tercipta. Kebanyakan desain yang berkembang justru berasal dari penggabungan atau pemotongan desain-desain yang sudah ada sebelumnya.

Dulu batik merupakan satu wujud kreasi seni yang memiliki nilai filosofis yang dalam. Bahkan pada beberapa bentuk desain batik hanya digunakan oleh kalangan tertentu. Wujud desain batik juga disesuaikan penggunaannya dengan acara yang hendak digelar. "Dulu masyarakat Jawa mendesain batik dengan sifat vertikal dan hanya untuk kebutuhan tertentu saja, seperti desain batik Sidomukti yang digunakan untuk pernikahan," ungkap Sri Sultan.

Namun, tahun demi tahun ketabuan batik itu semakin pudar. Akhirnya produk-produk batik dipaksa untuk mengikuti selera pasar. Desain-desain lama diubah sedemikian rupa, sehingga saat ini sudah ada sekitar 1.543 desain batik yang ada dalam catatan Sri Sultan. Tetapi, desain-desain tersebut hanya berputar pada karya-karya lama.

Fraktal

Kegelisahan tentang eksistensi desain batik itu juga kemudian menggelitik beberapa peneliti muda dari Bandung Fe Institut. Mereka lantas melakukan penelitian pengambangan desain batik. Dalam tahapan penelitian itu, mereka menemukan sebuah hubungan yang erat antara batik dan ilmu fisika.

Prof Yohanes Surya yang merupakan pembimbing dalam penelitian itu mendapatkan satu gambaran utuh bahwa masyarakat pencipta batik pada zaman dahulu sudah memiliki tingkat ilmu fisika yang tinggi. "Mereka mencoba memvisualisasikan alam ke dalam gambar, dan ilmu fisika merupakan kajian ilmu yang mengamati fenomena alam," ujar Prof Surya.

Dalam penelitian yang dibimbingnya, hipotesis yang muncul adalah bahwa masyarakat zaman dahulu mampu menggunakan otak mereka jauh lebih maju. Dengan menangkap pola dasar dari sebuah fenomena alam mereka bisa memproses hal tersebut menjadi sebuah desain batik. "Hanya keterbatasan canting yang membuat wujud gambar mereka tidak terlalu mirip," kata Yohanes. Hal ini dapat terlihat dari bentuk desain batik Mega Mendung atau Sawat (seperti sayap burung).

Lalu, dengan mengetahui pola dasar proses pembentukan satu desain batik yang dilakukan oleh para perupa batik pertama, dengan ilmu fisika hal tersebut dihitung dan dikalkulasikan agar bisa digunakan untuk menghasilkan desain baru. Seperti misalnya fenomena air yang tepercik. Dalam kajian fisika, fenomena itu kemudian digambarkan menjadi beberapa bidang segitiga.

Ketika bidang-bidang tersebut diproses secara komputer dengan menggunakan hukum fraktal (sebuah bentuk yang tercipta dari reduplikasi bentuk yang sama hingga bagian terkecil), maka gambar percikan air itu pun tercipta. Jika bidang segitiga itu digeser sedikit, maka desain percikan airnya juga berubah bentuk. Dari cara ini beberapa desain baru bisa tercipta. "Tapi selain itu, degan komputerisasi dan ilmu fisika, kita juga bisa mengidentifikasi asal daerah batik tersebut, sehingga klaim sembarang bisa dihindari," ujar Hokky Situngkir, satu peneliti. (kim)