Batik adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang menyimpan sejuta kearifan yang mengakar secara substansial, dari sisi ornamentasi harmoninya, proses pembuatannya hingga cara kita mengapresiasinya. Batik yang sangat kental dengan unsur tradisi terasa jauh dari jangkauan teknologi. Sementara itu, fisika adalah ilmu yang dipandang lebih banyak berhubungan dengan rumus-rumus dan teknologi. Keduanya tampak bertolak belakang. Namun, penelitian yang dipelopori oleh Bandung Fe Institute dan disupervisi oleh Prof. Yohanes Surya memperlihatkan bahwa fisika adalah ilmu yang bisa digunakan untuk mengungkapkan keindahan batik, dan melalui fisika kita bisa berkreasi menciptakan desain-desain batik dengan cara menggabungkan pola-pola batik tradisional melalui aplikasi komputer.
acroBatik adalah sebuah perusahaan fesyen yang didirikan pada tanggal 25 April 2009. Perusahaan ini mengaplikasikan penelitian fisika batik dalam bentuk berbagai produk fesyen. acroBatik adalah perusahaan pertama di kawasan Asia yang mengadopsi konsep fesyen kostumisasi atau yang lebih dikenal dengan fashion 2.0. Tren ini menjadi topik hangat komunitas fesyen di New York semenjak pertengahan tahun 2007. Konsep memberikan kesempatan bagi setiap konsumen dapat menjadi desainer untuk dirinya sendiri.
Teknologi fisika batik telah memungkinkan dihasilkan sejumlah berbagai variasi motif baru. Motif inovatif yang dihasilkan dengan sentuhan komputasi ini ternyata begitu indah dan dan tidak terbatas jumlahnya. Perangkat lunak fisika batik versi 1.7 mampu menciptakan motif yang bersifat personal: satu motif didesain khusus untuk satu konsumen. Konsep ini dalam dunia fesyen diklasifikasikan penggabungan antara wawasan ethnic-style dengan aliran techo-fashion, dalam bahasa popular dikenal sebagai desain etnik dengan sentuhan teknologi.